Aku Bukanlah Seorang Cewek Murahan

935 views

cewek ngentot 33

Aku Bukanlah Seorang Cewek Murahan – Aku menikah di usia yang sangat muda, yaitu 18 tahun, karena MBA (married by accident). Pacarku (sebut saja namanya Mono) menghamiliku dan ia mau bertanggung jawab. Tapi pernikahanku tak berjalan lama. Hanya 10 bulan, karena setelah bayiku lahir, Mono menceraikanku atas desakan orang tuanya. Mono melanjutkan kuliahnya di Jakarta sementara aku tetap di desa di daerah Ponorogo, sebuah kota kecil di Jawa Timur, merawat bayiku.

Saat anakku mencapai usia 1 tahun aku meninggalkannya untuk merantau ke Surabaya. Kuserahkan perawatan anakku pada kakak kandungku. Aku diajak teman satu desa yang bekerja di sebuah pabrik. Hanya 2 bulan aku bekerja dan karena tak betah dengan kondisi di pabrik itu, aku keluar.

Beruntung tak sampai 2 minggu aku luntang-lantung cari kerja, aku bertemu sahabatku waktu SMP. Ia tahu alamatku dari teman satu desa yang mengajakku kerja di pabrik. Ia mengajakku kerja di panti pijat. Karena aku punya keahlian memijat kuterima dengan senang hati tawaran itu.

Kukira panti pijat yang dimaksud temanku adalah panti pijat tradisional, ternyata bukan. Tempatnya memang bagus. Ada AC di setiap ruangan. Pegawainya pun perempuan-perempuan muda. Aku mendapatkan pelanggan pertama seorang laki-laki agak tua dan gemuk. Tampaknya ia tahu kalau aku orang baru di situ dan ingin mencoba pijatanku. Ternyata ia suka dan selalu memilihku jika ia datang ke panti.

Makin lama pelangganku makin banyak. Begitu juga uang yang kuhasilkan dari tip. Aku bisa mengirim ke desa untuk perawatan anakku lebih banyak dari sebelumnya. Tapi yang membuatku harus menahan diri adalah ulah dari pelanggan yang aneh-aneh.

Ada saja permintaan mereka yang kuanggap melecehkan. Layanan plus istilahnya, seperti minta dioral, menyuruhku memijat dengan hanya memakai pakaian dalam, dan bahkan ada yang mengajak berhubungan intim di situ dengan iming-iming bayaran tambahan. Tak jarang aku marah kepada pelanggan yang sengaja mencolek bagian sensitif tubuhku.

Dari hasil bertukar cerita dengan teman-teman seprofesiku, merekapun sering mengalami hal serupa. Tapi mereka tak peduli. Yang penting dapat tip besar. Ada yang terang-terangan cerita kalau ia bersedia melakukan hubungan badan dengan pelanggan di kamar pijat. Ada juga yang sekedar oral. Semua itu demi mendapatkan tambahan penghasilan.

Tapi itu bukan berarti aku yang paling suci di antara mereka. Maklum, sebagai manusia normal, apalagi sudah pernah berhubungan badan, pastilah hasrat untuk itu muncul sekali waktu.

Ada satu pelangganku, sebut saja namanya pak Ronal, sangat ganteng. Badannya atletis dan kulitnya putih bersih. Saat melihatnya aku merasa kesengsem padanya, apalagi saat tanganku mulai menyentuh tubuhnya. Ia sudah 3 kali datang dan selalu memilihku untuk memijatnya. Katanya, pijatanku enak.

Seperti biasa, tubuh pak Ronal hanya dililit handuk putih dan aku tahu ia tidak memakai apa-apa dibalik handuk itu. Saat memijat pahanya jantungku berdebar-debar. Ingin rasanya kupegang dan kuremas bagian vital pak Ronal yang menonjol itu. Aku harus cukup puas dengan menelan ludah.

Suatu hari, selesai dipijat, pak Ronal mengajakku jalan-jalan karena kebetulan jam kerjaku berakhir. Aku yang sudah dimabuk kepayang pada pak Ronal menerima saja ajakannya itu. Dengan mobilnya, kami menuju restoran ikan bakar favorit pak Ronal.

Begitu makan malam selesai, aku tak sanggup menolak ajakan pak Ronal untuk mampir ke sebuah hotel. Dan seperti yang kuduga, kami bercinta di hotel itu. Pak Ronal sangat perkasa di ranjang. Ia membuatku orgasme sampai 3 kali setiap rondenya.

Nikmat yang lama tak kurasakan membuatku mau saja ketika pak Ronal menumpahkan cairan hangatnya di mulutku dan aku menelannya bulat-bulat. Pak Ronal tertawa kecil ketika aku bersendawa usai menelan cairannya.

Pak Ronal benar-benar membuatku terbang ke awang-awang. Selain memuaskanku, ia juga memberikan tip yang lumayan besar.

Pertemuan berikutnya, aku tak ragu lagi melakukan oral pada pak Ronal saat di panti pijat, walaupun sebetulnya perusahaan melarang keras hal itu. Untuk melakukan hubungan badan, kami janjian ketemuan di sebuah plaza untuk selanjutnya meluncur menuju hotel.

Selain hebat di ranjang, pak Ronal juga royal. Ia membelikanku gaun, baju dalam seksi, dan handphone, selain tip yang besar tentunya.

Boleh dikatakan, aku jadi seperti istri simpanan pak Ronal yang selalu siap melayaninya. Tip yang kuerima darinya itu kuanggap sebagai uang belanja. Aku bahkan berharap suatu ketika pak Ronal melamarku untuk jadi istri keduanya. Tapi impian tinggal impian. Pak Ronal tak pernah datang lagi ke panti atau meneleponku. Entah kenapa tiba-tiba ia menghilang begitu saja. Padahal aku sangat rindu padanya. Pada belaiannya. Sampai-sampai tercetus dalam pikiranku, tak dibayarpun aku rela asal bisa mereguk kenikmatan dengannya.

Kekecewaanku bertambah ketika panti tempat aku bekerja dan beberapa panti yang ada di sekitarnya digerebek polisi. Semua pegawai panti digiring ke kantor polisi untuk ditanyai. Belakangan aku baru tahu kalau penggerebekan itu karena pengaduan warga yang panti digunakan sebagai tempat mesum dan perdagangan narkoba.

Untung kami tidak sampai dipenjara. Hanya diberi pengarahan agar mencari pekerjaan lain yang halal. Beberapa kali aku menghubungi pak Ronal untuk memberitahu tentang kejadian yang menimpa panti, tapi tak pernah dijawab. Aku berharap ia bisa membantu mencarikan aku pekerjaan lain yang lebih baik. Sayang handphonenya tak pernah aktif.

Aku pun mencari pekerjaan lain. Sejak keluar dari panti hingga 5 bulan berikutnya aku sudah merasakan berbagai pekerjaan sesuai dengan ijazah SMA yang kumiliki. Kebanyakan sebagai penjaga toko, mulai toko pakaian, toko mainan, toko obat, sampai toko makanan ringan. Sayangnya aku tak betah menjalani pekerjaan itu. Hanya duduk menunggu pelanggan sambil terkantuk-kantuk.

Ketika berjalan-jalan untuk mencari pekerjaan lain, aku melihat ada lowongan kerja tertempel di depan sebuah warnet. Karena sesuai dengan kriteria yang kumiliki, aku pun melamar di situ dan diterima.

Pemilik warnet adalah seorang keturunan Tionghoa, sebut saja namanya Koh San. Usianya sekitar 35 tahun. Sebelum mulai bekerja, Koh San mengajariku cara mengoperasikan komputer. Aku sangat senang karena dari dulu aku ingin bisa komputer karena kata orang-orang bisa menjadi nilai tambah kalau cari kerja. Dalam waktu singkat aku cukup bisa menguasai cara pengoperasian komputer.

Karena warnet itu tergolong baru buka, pegawainya cuma 1 orang, aku. Kata Koh San, kalau warnet itu maju akan menambah pegawai lagi agar aku bisa kerja bergantian. Aku tak keberatan meski harus bekerja sampai jam 10 malam, karena butuh kerja.

Aku sangat betah dengan pekerjaan baruku itu, karena aku punya kegiatan yang mengasyikkan sambil menunggu pelanggan yang menyewa komputer. Browsing internet dan fesbukan adalah kegiatan favoritku.

Apalagi Koh San bukan majikan yang cerewet, bahkan bisa dibilang penyabar, meski dalam hal keuangan sangat teliti. Ia adalah anak tunggal. Papanya sudah meninggal. Ia hanya tinggal berdua dengan mamanya.

Setiap jam 10 pagi ia datang untuk membuka pintu warnet dan ikut menjaga di situ sebentar, lalu pergi. Jam 7 malam datang lagi sampai warnet tutup jam 10 malam. Begitu setiap hari.

Tanpa terasa, satu setengah tahun berlalu. Pengunjung warnet semakin ramai. Apalagi di situ menyediakan game online. Pelanggannya kebanyakan anak-anak SD dan SMP. Ada juga mahasiswa, bahkan bapak-bapak yang getol bermain game online hingga berjam-jam. Pegawainya pun bertambah 2 lagi, hingga total ada 3 pegawai yang bertugas secara shift. Sebagai pegawai paling senior, aku ditunjuk oleh Koh San untuk mengkoordinir pegawai yang lain. Dan yang menggembirakan, gajiku dinaikkan.

Dalam kurun waktu itu aku sempat berpacaran 2 kali, tapi semuanya kuakhiri. Dari pengalaman itu timbul satu pendapat, bahwa yang diinginkan laki-laki dari perempuan adalah seks. Saat pacaran masih dalam batas normal, mereka terlihat begitu sayang. Tapi begitu sudah melakukan hubungan badan, selalu seks yang diinginkan setiap kali bertemu. Perilakunya pun berubah menjadi kasar jika keinginannya tak dipenuhi.

Entah kenapa, setiap laki-laki yang dekat denganku selalu menganggapku gampang ditiduri, seolah aku ini perempuan haus seks. Jujur saja aku butuh. Tapi aku bersedia melakukan atas dasar cinta dan kasih sayang. Bukan pelampiasan nafsu.

Aku merasa, perbuatanku di masa lalu dengan Mono meninggalkan noda dalam diriku yang dapat dengan mudah dibaca oleh setiap laki-laki sebagai perempuan kotor yang tak perlu dicintai, tapi bersedia ditiduri.

Suatu hari aku dapat kabar mengejutkan dari desa. Bapakku meninggal dunia akibat jatuh dari pohon nangka yang ada di belakang rumah. Aku langsung pamit pada Koh San untuk pulang ke desa. Koh San ternyata bukan hanya memberikan ijin, tapi juga ingin mengantarku. Aku yang diliputi rasa duka bertambah dengan bingung memikirkan sikap Koh San yang begitu baik.

Tak hanya itu. Koh San membantu biaya pemakaman bapak dan acara tahlilal. Koh San menginap di hotel di Ponorogo, tapi ke hotel hanya malam hari saja. Dari pagi sampai usai tahlilan ia berada di rumahku.

Kehadiran Koh San tentu saja jadi pergunjingan warga desa. Bahkan ada yang mengira kalau ia suamiku. Itu wajar karena Koh San sangat mudah bergaul, seolah tak ada perbedaan kesukuan antara dia dengan kami. Anakku pun senang karena sering diajak jalan-jalan naik mobilnya dan pulangnya membawa mainan.

Malam hari usai tahlilan 3 hari meninggalnya Bapak, Koh San membuat geger keluargaku. Betapa tidak. ia mengatakan kepada ibu dan kakak-kakakku kalau ingin melamarku. Aku kaget bukan main, sekaligus terharu, karena tak menyangka sama sekali kalau selama ini ia menyimpan rasa cinta padaku. Untuk membuktikan kesungguhannya, ia bahkan bersedia masuk Islam. Katanya lagi, mamanya sudah setuju ia menikahiku.

Setelah semalam suntuk berembug, akhirnya aku memutuskan menerima lamaran Koh San. Ia memang tidak seganteng pak Ronal, tapi ia baik dan santun. Selain itu, ia sangat menyayangi anak semata wayangku.

Keesokan harinya Koh San sah menjadi mualaf. Dari masjid desa, kami langsung menuju makam bapak untuk minta doa restu.

Dua hari kemudian kami resmi menikah dan berencana akan mengadakan resepsi satu bulan kemudian.

Aku sangat bersyukur punya suami Koh San. Ia sangat menyayangiku dan anakku. Ia pun membuyarkan pendapatku, kalau laki-laki hanya memikirkan seks. Ia tak marah saat aku tak ingin berhubungan. Ia sangat pengertian dan menghormati hak-hakku sebagai istrinya. Begitu pun pada anakku. Ia sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.

Yang membuatku makin mencintainya adalah keinginannya yang kuat untuk mendalami agama. Mau tak mau, aku yang tadinya kurang begitu serius menjalankan syariat agama akhirnya mengikutinya. Termasuk memakai jilbab dan rutin mengikuti pengajian. Aku berharap semoga ia menjadi pelabuhan terakhirku dan tetap teguh menjadi imamku dalam menjalani hidup bersama-sama hingga akhir hayat kami.

Selain itu dalam doa-doaku tak lupa aku mohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosaku di masa lalu.

Saat ini anakku sudah 4 orang, 3 di antaranya adalah buah cintaku dengan Koh San. Usaha warnet yang dulu dirintis bersamaku ditutup oleh Koh San karena ia merasa prihatin atas kejadian seorang anak yang jadi pelanggannya ketahuan mencuri demi bisa bermain game online. Sebagai gantinya kami membuka usaha restoran yang alhamdulillah maju pesat.

(Visited 1,461 times, 1 visits today)

Comments

Comments are closed.