Cerita Pasutri Hot Di Pijit Sambil Sange Abis

707 views

Cerita Pasutri Hot Di Pijit Sambil Sange Abis – Aqu adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aqu punya anak dua. Yg kedua kelas satu. Aqu sering nungguin anakku yg kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.Guru olah raga anakku bernama Pak John. Ia suka sekali bercanda dan berhumor.

Badannya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dgn isteri 4 bulan yg lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.

Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sembari menunggu anakku aqu

memperhatikan ia yg sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aqu memperhatikan

diantara selangkangannya aqu lihat tonjolan yg memanjang dan besar. Aqu berkata dalam hatiku,

wuh panjang dan besar sekali barangnya. Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.

“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!”

kubilangi suamiku.

“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”

“Enggak tahu ya .. Coba aqu tanyakan besok ya.”

Keesokan harinya aqu pergi ke sekolahan dan bertemu dgn Pak John.

“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaqu. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”

“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sembari bercanda.

Setelah suamiku pulang kantor sembari makan malam aqu ceritakan padanya bahwa Pak John mau.

“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.

Sampai waktu yg ditentukan Pak John datang ke rumahku. Ia ngobrol dgn suamiku sembari bercanda

sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dgnnya. Aqu duduk di dekat suamiku menemaninya.

Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.

Mulailah suamiku dipijet oleh Pak John sembari ngobrol ngalor-ngidul. Pak John banyak ngebanyol

karena memang ia hobi bercanda. Aqu nonton TV sembari tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin

obrolan Pak John dan suamiku. Suamiku mulai bercerita agak serius dgn suara pelan-pelan.

“Aqu ini tak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah

kalau hubungan intim. Kalau Pak John bagaimana dgn isteri Anda?”

“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan

dgn kemampuan saya sampai ia minta cerai.”

“Wah, hebat kamu ini, Pak.”

Pak John yg biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.

“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek.

Bapak urut yg membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau

memanjangkan dan membesarkan aqu tak bisa,” katanya pada suamiku.

“Wah, tukang urut yg memanjangkan dan membesarkan itu banyak yg bohong,” kata suamiku.

“Ada yg bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata

Pak John berusaha meyakinkan.

“Pak John pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.

“Saya tak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya

4,5 inch,” jawab Pak John sembari tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”

“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”

Mendengar obrolan suamiku dan Pak John aqu berkata dalam hatiku.

“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak John, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu

belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”

Aqu jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…

Setelah mereka selesai aqu pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aqu

“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak John?” tanyaqu setelah Pak John pulang.

“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak

John saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”

“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya

enteng dan enak sekali,” kata suamiku

“Aqu mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”

“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”

Keesokan harinya saya ketemu Pak John. Sembari tersenyum, ia langsung bertanya padaqu.

“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dgn pijetan saya?” tanya Pak John padaqu.

“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”

“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”

Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak John, hatiku tak karuan, membaygkan bermacam-macam, bercampur taqut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aqu jarang menemukan kepuasan dgn suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tak
tahan lama.

Hampir-hampir setiap malam aqu membaygkan kemaluan punya Pak John. Aqu berkata dalam hati,
barang Pak John pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yg agak hitam itu kuat,
mana badannya tinggi, besar dan kekar.

Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yg besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aqu ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yg kecil ini.

Apa tak mentok kesakitan bila barang yg keras dan panjang ditekan ke lobangku dgn tenaga yg raksasa. Pokoknya aqu membaygkan antara taqut dan ingin merasakan. Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.

Malam ini malam minggu, Pak John akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak John datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aqu mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak John menjawab, “Ya, tak dong, Pak.”

Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut. Sekarang giliran aqu yg akan diurut. Aqu pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sembari nonton TV.

Aqu mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak John mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sembari mengurut pelan-pelan, aqu merinding merasakan urutan Pak John, karena sebelumnya aqu membaygkan sesuatu yg nikmat.

Kini Pak John membisu seribu bahasa tak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yg mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak John meletakkan kakiku ke pahanya.

Sembari mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yg mulai mengeras. Dgn suara pelan dan terpatah-patah Pak John bertanya.

“Paha ibu mau diurut?”

“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aqu pun menjawab dgn suara
pelan.

Pak John mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak John mengurut pahaqu sampai ke selangkanganku, aqu merintih dgn suara pelan-pelan taqut kedengaran suamiku.

Pak John pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yg kadang-kadang mengurut sembari mengelus dan meremas pahaqu apalagi ketika sampai di selangkanganku.

Semakin timbul sensasi yg luar biasa ketika Pak John membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sembari meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aqu merintih dgn suara pelan.

Dan Pak John tahu kalau merangsang, aqu juga tahu kalau Pak John juga merangsang.

Aqu berkata dalam hatiku: sebelum aqu diurut dalam posisi terlentang, aqu akan pamit sama Pak John untuk buang air kecil sembari aqu ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum. Ketika Pak John menyuruhku terlentang, aqu berkata kepadanya: “Aqu mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.” Ketika keluar kamar aqu lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.

Di kamar mandi aqu berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak John akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang.

Aqu menginginkannya meraba kemaluanqu dan memasukkan jarinya ke lobang kemaluanqu. Setelah masuk ke kamar, aqu bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataqu Pak John semakin bersemangat.

Kini aqu terlentang di hadapan Pak John. Dan Pak John tak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aqu memenjamkan mata sembari menggigit bibirku. Kini Pak John tak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaqu dgn gemesnya.

Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir kemaluanqu, dan semakin tak tahan rasanya aqu ingin memegang barangnya Pak John sembari penasaran tapi malu. Pak John semakin berani menusukkan jarinya ke lobang kemaluanqu yg sudah membasah dgn ledir.

Aqu mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak John. Dan Pak John membuka resleting celananya. Sembari aqu melirik ke selangkangannya, Pak John mengeluarkan rudalnya.

Aqu terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari gagangnya. Aqu menggenggamnya tapi genggamanku tak muat saking besar.

Sembari mengelus-elusnya, aqu baygkan kalau rudal yg kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tak robek lobang kemaluanqu dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan taqut robek dan jebol.

Pak John kini semakin ganas mengocok lobang kemaluanqu dgn jarinya, dan aqu sangat ingin ditindihi dan disebadani tapi taqut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sembari mengocok Pak John menciumi pipiku Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aqu pun terangsang berat.

Kemudian ia memelukku dan menindihku sembari berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.

“Aduh…” jeritku sembari menggigit bibirku tak tahan.

Tekanan kedua kalinya ini tak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang kemaluanqu. Kemudian ia menekan lagi dgn tenaga yg super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak John dan aqu pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh badan. Dan aqu mengakhiri pijetan.

Kemudian aqu membangunkan suamiku. Pak John pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aqu mengajak suami masuk kamar, aqu sudah tak tahan. Barang suami juga mengeras tak seperti biasanya.

Kini aqu menyalurkan rangsanganku dgn suami sembari membaygkan disebadani Pak John. Malam itu aqu benar-benar merasakan puncak orgasme yg luar biasa tak seperti biasanya, juga suamiku.

“Ma… Malam ini tak seperti biasanya. Urutan Pak John memang luar biasa membuat kita benar- benar mencapai puncak kenikmatan yg luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.

Hari-hari aqu hidup dalam baygan: Kalau malam minggu depan suamiku tak ada di rumah, aqu akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang kemaluanqu. Aqu membaygkan barang Pak John yg besar dimasukkan sembari melelukku, menyepokiku dan menggenjotku.

Membaygkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sembari rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.

Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membaygkan sesuatu yg besar dan panjang, membaygkan lobang kemaluanqu membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak John datang memakan pakaian yg serasi nampak sangat gagah dan manis.

Ketika suami ngobrol dgn Pak John telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.

“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku. Malam ini aqu semakin yakin bahwa aqu akan disebadani dgn Pak John.

“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaqu.

“Jadi, saya tak usah dipijat, habis tak ada Mas.”

“Tak apa-apa pijet saja, Pak John orangnya baik, aqu sudah percaya kok.”

Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aqu disebadani oleh Pak John yg berhari hari aqu membaygkannya. Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aqu bilang pada Pak John, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aqu mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.”

Setelah suamiku menyiapkan semua yg akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak John. Aqu mengantarkan sampai pintu gerbang. Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aqu masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak John,

“Tunggu dulu ya pak, aqu pakaian dulu.” Aqu memakai sarung dan kaos… dan sengaja aqu tak memakai BH dan celana dalam.

Begitu aqu keluar, sorotan mata Pak John menatap buah dadaqu, aqu tersenyum. Aqu duduk di kursi sebentar. Aqu baygkan bahwa Pak John duda selama 4 bulan, berarti ia tak berhubungan selama 4 bulan.

Aqu yakin ia tak jajan sembarangan. Aqu begitu yakin malam ini aqu akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aqu ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.

Sekarang aqu memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yg keras nanti tak terdengar oleh siapapun. Aqu mengajak Pak John ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yg mengganas, dan bunyi lobang kemaluanqu yg digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yg super keras.

Kini aqu beduaan yg sama mengharapkan kepuasan seksual dgn sepuas-puasnya. Pak John membuka kain sarungku dan tinggal kaos yg menutupi buah dadaqu. Ia meremas-remas pahaqu. Aqu mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak John membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang.

Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaqu terus ke bibir kemaluanqu. Aqu sudah tak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membaygkan kenikmatan yg sebentar lagi akan aqu rasakan.

Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sembari mengocokkan jarinya ke lobang kemaluanqu.

“Pak, masukkan… aqu sudah tak tahan.”

“Aqu juga tak tahan, aqu sudah 4 bulan tak pernah berhubungan badan, aqu ingin malam ini benar- benar puas, mungkin aqu main sampai pagi,” timpal Pak John.

“Aqu juga pak… Aqu serahkan semua badanku pada Pak John. Tapi, oleskan minyak pelumas yg kusiapkan ini ke lobang kemaluanqu dan ke rudal Bapak agar aqu tak merasakan sakit.”

Aqu siapkan parfum dan minyak pelumas yg harum.

“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dgn ludahnya.

Kini Pak John mengangkangkan pahaqu lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang kemaluanqu. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tak juga berhasil masuk, aqu menjerit kesakitan.

“Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tak ngimbang,” katanya merayuku.

Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dgn minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dgn ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dgn tenaga yg super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aqu pun menjerit kesakitan. Ia terdiam, menahan sejenak, sembari menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaqu.

“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yg luar biasa.” Aqu mengangguk.

“Tahan ya, Bu, aqu akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi. Ia menekannya dgn tenaga yg keras, aqu tak tahan.

“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sembari menggigit bibir. Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yg luar biasa.

“Pak .. rasanya nikmat sekali.”

Semakin ganaslah Pak John menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang kemaluanqu akibat genjotan yg luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aqu menggigil, meraung- raung kenikmatan.

“Aah… uuuh… uuh… aqu… aqu… mau mencapai puncak, Pak…”

Pak John menekan keras-keras. Aqu pun mencapai puncak kenikmatan yg luar biasa yg tak pernah kurasakan sebelumnya. Pak John sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aqu sudah lemas, tapi karena Pak John meremas-remas kembali tetekku dan menjelati kemaluanqu, aqu mulai merangsang lagi.

Pak John menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sembari ia mengelus- ngelus lobang anusku.

Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.

“Aduh… Pak!” jeritku. Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelan dgn jarinya, lama-lama aqu merasakan nikmat.

“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”

Akhirnya Pak John menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari kemaluanqu, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.

“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”

Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh kemaluan itu. Ia mendorongku agar aqu tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus.

Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aqu merasakan nikmat sembari menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut.

Semakin ganas ia menggenjot sampai aqu terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak John mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku. Malam itu aqu benar-benar merasakan kenikmatan yg luar biasa. Aqu disebadani oleh Pak John sampai 4 kali hingga pagi.

(Visited 659 times, 1 visits today)

Comments

Comments are closed.