Ibu Mertuaku Menjadi Kekasih Gelapku

2526 views

cewek ngentot 34Ibu Mertuaku Menjadi Kekasih Gelapku – Ketika muda, aku tergolong orang yang bengal. Minum minuman keras, main perempuan, kebut-kebutan di ajang balap liar, dan bersentuhan dengan narkoba, semua sudah kulakukan. Aku baru “jinak” ketika berkenalan dengan Lina (bukan nama sebenarnya) yang kemudian jadi istriku dan hingga kini telah memberiku 3 anak.

Kebengalanku “kambuh” ketika usiaku 37 tahun gara-gara tergoda mertuaku sendiri. Ya, aku jadi lupa diri setiap kali bertemu bu Tanti, ibu tiri Lina. Betapa tidak. Tak seperti tipikal ibu mertua pada umumnya yang cerewet, gemuk, rambut memutih dan kulit keriput di sana sini, bu Tanti justru menunjukkan pesonanya pada usia 47. Kulitnya masih halus mulus dan dandannya pun modis. Tubuhnya pun bisa dibilang masih seksi. Sintal, seperti tubuh Soimah. Konon, saat mudanya dulu ia pernah menjadi model untuk majalah lokal.

Sejak awal aku menikahi Lina sampai usia perkawinanku menjelang 10 tahun dan punya anak dua, tak ada perasaan apapun pada bu Tanti. Entah kenapa aku tiba-tiba begitu bergairah setiap melihatnya. Apalagi jika menatap dadanya yang ranum itu. Dalam hati aku selalu memuji betapa beruntungnya pak Said (nama samaran), suami bu Tanti yang juga ayah kandung Lina. Bukan sekali dua kali aku berkhayal bercinta dengan ibu mertuaku sendiri. Aku jadi terobsesi padanya.

Obsesiku yang makin membesar dari hari ke hari membuat kelakuan bengalku di masa muda kumat. Tak jarang, saat aku berdua dengan bu Tanti, entah itu mengantarnya belanja ke mall atau di rumahnya sepulang dari belanja, tak segan-segan aku memuji kecantikannya. Tentunya dengan cara halus. Memang, sebagai menantu yang terdekat domisilinya dengan rumah bu Tanti, aku paling sering diminta tolong untuk mengantarnya kesana kemari. Kadang ke mall, kadang arisan, kadang ke salon. Maklum karena pak Said adalah pejabat yang supersibuk, sementara aku bekerja di sebuah BUMN yang longgar peraturannya, sehingga aku bisa keluar saat jam kerja kapanpun kuinginkan. Memang tak bisa sering-sering, makanya jika bu Tanti minta diantar, aku biasanya menyanggupi usai jam kerja.

Dulu ada sopir yang khusus melayani bu Tanti. Usianya sudah agak tua. Begitu si sopir meninggal, digantikan oleh sopir yang lebih muda. Tapi hanya sebentar, karena bu Tanti tak suka dengan caranya mengemudi yang gampang emosi. Sopir yang ketiga malah lebih parah lagi. Salah satu pembantu bu Tanti dihamilinya. Tentu saja ia dipecat dengan tidak hormat bersama si pembantu. Sambil menunggu dapat sopir lagi, aku menyediakan diri untuk mengantar jemput bu Tanti. Agaknya, karena suka dengan caraku mengemudi, lambat laun niat untuk merekrut sopir baru jadi terlupakan. Akhirnya, jadilah aku sopir merangkap menantu.

Saat bertugas mengantar, kelelakianku bergetar setiap kali kugandeng tangan bu Tanti, entah itu saat menyeberang jalan atau hendak naik ke eskalator (tangga berjalan) yang ada di mall. Belum lagi cara berbusananya yang tak kalah dengan ABG, seperti memakai rok span atau jins di atas lutut dan t-shirt ketat. Aku kadang tak konsentrasi mengemudikan mobil setiap kali ia duduk di sebelahku. Pahanya yang mulus membuat aliran darahku mengalir kencang. Apalagi ketika membukakan pintu mobil untuknya saat ia akan turun dari mobil.

Pernah suatu ketika,usai belanja bu Tanti mengajakku makan es krim di salah satu gerai fast food. Saat ngobrol, es krim bu Tanti menetes di pahanya. Spontan kucolek tetesan es krim itu dan langsung menjilatnya. “Ih, kamu jorok, Tom!”, ujar bu Tanti. Aku nyengir dan menjawab, “Justru tambah nikmat rasanya, bu”. Bu Tanti tertawa sambil mencubit lenganku. “Ayo bu, ditumpahin lagi”, lanjutku menggoda. Lagi-lagi bu Tanti tertawa.

Setelah itu, lama bu Tanti tak minta di antar. Aku pun nekad meneleponnya saat jam istirahat kantor. Sambil bercanda kukatakan kalau aku kangen ingin mengantar lagi. Jawaban bu Tanti membuat hatiku berbunga-bunga. Ia minta aku menjemput tukang pijat langganannya, sebut saja namanya mak Ijah, dan mengantarnya ke rumahnya. Mendengar permintaan bu Tanti, muncul akal bulusku. Aku tak mak Ijah, tapi langsung menuju ke rumah bu Tanti. Kukatakan kalau mak Ijah lagi banyak order dan baru besoknya bisa datang. Bu Tanti tampak kecewa, yang artinya ia sangat ingin dipijat hari itu. Iseng-iseng kutawarkan diriku untuk memijatnya. Tak kuduga, bu Tanti setuju walaupun dengan raut wajah menyiratkan keraguan akan kemampuanku memijat. Kesempatan emas itu tak kusia-kusiakan. Kukatakan kalau dulu aku pernah belajar memijat pada tukang pijat langganan ayahku almarhum. Hanya saja, pelajaran dari tukang pijat ayah tentang bagian tubuh yang bisa menimbulkan birahi jika dipijat tak kukatakan pada bu Tanti.

Mula-mula bu Tanti masuk ke kamarnya mengambil minyak urut, handuk kecil berwarna putih dan satu baskom berisi air hangat. Setelah itu bu Tanti membelakangiku sambil membuka resleting di bagian belakang dasternya lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi telungkup di sofa ruang keluarga. Darahku berdesir karena bu Tanti tidak mengenakan bra. Itu wajar karena percuma pakai bra, karena harus dilepas saat dipijat. Aku pun mulai melakukan tugasku bak pemijat profesional. Jantungku langsung berdetak kencang saat kedua tanganku menyentuh kulit punggungnya yang mulus.

Setelah berjalan beberapa saat tampaknya bu Tanti mulai menikmati pijatanku. “Pijatanmu lumayan juga, Tom”, katanya. “Terima kasih, bu”, jawabku singkat sambil terus melakukan pijatan. Aku pun mulai memijat bagian tubuh yang kata tukang pijat ayah bisa menimbulkan birahi yang dipijat. Ternyata benar juga. Tubuh bu Tanti menggeliat seperti orang kegelian, tapi beberapa saat kemudian ia tampak mulai menikmatinya. Sesekali tangannya meremas bantal sofa yang dijadikan penyangga kepalanya diiringi rintihan kecil, seolah sedang merasakan suatu sensasi kenikmatan. Aku berusaha sekuat tenaga menahan gejolak nafsu, karena tak ingin merusak suasana yang makin mendebarkan itu. Apalagi suasananya sepi. Pembantu rumah tangga bu Tanti ada 3 orang dan jam-jam segitu mereka selalu berada di belakang. Mereka hanya berkeliaran di rumah utama saat pagi untuk bersih-bersih dan menyiapkan sarapan, kemudian siang hari untuk menyiapkan makan siang dan malam menjelang makan malam.

Sambil terus memijat kutanya bu Tanti apakah kakinya mau dipijat juga. Bu Tanti mengiyakan dengan suara lirih. Kualihkan pijatanku di kedua kaki bu Tanti, mulai dari bagian bawah dasternya hingga ke ujung kaki, bolak-balik. Sesekali kulirik bu Tanti. Kedua matanya terpejam. Kemudian, ketika pijatanku kembali ke bagian paha, kususupkan sedikit pijatan di paha yang tertutup dasternya. Karena bu Tanti tak bereaksi, pijatan kuarahkan makin naik ke dekat pantatnya hingga dasternya tersingkap, lalu turun lagi hingga ke ujung kaki. Birahi makin memuncak manakala kulihat celana dalam bu Tanti yang berwarna biru dengan renda-renda di pinggirannya.

Aku makin nekad. Untung-untungan kuminta bu Tanti untuk membalikkan tubuhnya dengan alasan agar aku bisa memijat bagian depan kedua kakinya. Tak dinyana, bu Tanti menurut. Aku menggeser tubuhku ke ujung sofa dekat kaki bu Tanti dan mulai memijat lagi. Seperti sebelumnya, mula-mula aku hanya memijat hingga ke bagian tubuhnya yang terbuka, tapi lama-lama mulai menyusup ke dalam dasternya. Lagi-lagi bu Tanti tak bereaksi, dalam arti marah padaku, atau setidaknya memintaku untuk tidak memijat bagian itu. Ia hanya diam sambil memejamkan matanya. Ia seakan tak peduli mataku liar menatap bagian sensitif tubuhnya yang tertutup celana dalam biru itu. Aku benar-benar gila dibuatnya, tapi aku masih berusaha menahan diri. Aku berharap bu Tantilah yang lebih dahulu memulai.

Sayangnya, hingga selesai memijat, harapanku tak terjadi. Bu Tanti hanya berbaring mengatakan kalau ia suka dengan pijatanku. Aku hanya tersenyum sambil membasuh tanganku yang berlumuran minyak urut lalu mengelapnya dengan handuk kecil. Sampai di situ, bu Tanti masih membiarkan dasternya tersibak hingga ia bangkit dan duduk di sebelahku. Ia langsung membelakangiku dan memintaku untuk mengelap punggungnya juga, sementara tangannya menahan bagian depan daster agar tidak melorot.

Aku masih berusaha mengulur waktu dengan mengelap pelan-pelan punggung bu Tanti dari minyak urut. Kunikmati betul usapan demi usapan, sambil mencuri-curi pandang ke baigan samping tubuhnya untuk melihat dadanya yang menyembul di balik daster. Betapa ingin aku meremasnya saat itu juga.

Selesai mengelap bagian dada, spontan aku jongkok di depannya dan langsung mengelap bagian paha hingga kaki bu Tanti. Bu Tanti tampak agak kaget, tapi kemudian ia diam saja dan membiarkanku melakukan tugasku. Ia bahkan menurut waktu kurenggangkan sedikit kedua kakinya agar aku bisa mengelap bagian yang terjepit. Dengan daster terangkat, praktis celana dalamnya terlihat jelas olehku. Hal ini membuat pertahanan imanku bobol. Dengan sengaja usapan tanganku “bablas” hingga mengenai bagian sensitif tubuhnya. Bukannya marah, bu Tanti malah nyeletuk, “Nakal kamu, Tom …”

Reaksi bu Tanti yang “biasa-biasa” saja kuartikan kalau ia tak keberatan aku melakukan itu. Tanganku pun makin berani meraba dan mengelus bagian tubuhnya yang paling rahasia itu dengan lembut, sementara mataku menatap langsung ke mata bu Tanti. Lagi-lagi ia hanya tersenyum sambil menggigit bibirnya. Matanya sayu, yang menandakan ia menikmati rabaanku. Apalagi kemudian ia menggeser duduknya ke bibir sofa hingga tanganku makin bebas “bermain”. Bisa kurasakan kalau bu Tanti sudah basah yang artinya ia terangsang. Ini membuatku menggila. Kugeser tubuhku di sela-sela kedua kakinya yang duduk mengangkang dan tanpa basa-basi kubenamkan wajahku ke dadanya. Salah satu tanganku yang masih “nganggur” meraih daster yang menutupi dadanya dan membukanya. Langsung saja kucumbui dada ranum bu Tanti dengan penuh nafsu, sementara satu tanganku melepas celana dalamnya dan mulai memainkan jari-jariku di situ. Kedua tangan bu Tanti menyangga kuat-kuat tubuhnya di sofa, sementara kepalanya menengadah dengan mulut menganga. Sejenak kemudian bu Tanti menatapku dengan mata sayu sambil berkata di antara desahannya, “Kamu nakal, Tom. Kamu nakal …” Lalu bu Tanti merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Kedua tangannya menggenggam erat rambutku, tapi aku terus saja mencumbui dadanya. Dengan kedua tangannya, bu Tanti menarik kepalaku hingga wajah kami berdekatan. Tanpa menunggu aba-aba, bu Tanti mendaratkan bibirnya di bibirku dan melumatnya dengan penuh gairah. Cukup lama kami berciuman dengan ganasnya, sampai akhirnya bu Tanti mengajakku ke kamarnya. Bu Tanti membenahi dasternya asal-asalan, memungut celana dalamnya lalu beranjak dari sofa dan masuk ke kamar. Aku pun mengikutinya dengan birahi meletup-letup.

Begitu di dalam kamar, bu Tanti berlutut di depanku dan melucuti ikat pinggang dan celana panjangku. Aku langsung memelorot sendiri celana dalamku dan bu Tanti langsung memainkan bagian bawah tubuhku dengan mulutnya. Terlihat sekali kalau ia sudah sangat bernafsu. Sementara bu Tanti “bekerja”, kulepas baju dan kaus dalamku.

Kunikmati benar-benar kuluman dan hisapan bu Tanti. Ia seperti seekor kucing kelaparan yang mendapatkan ikan segar. Ia tampak juga menikmati “pekerjaannya”. Setelah itu bu Tanti naik ke ranjang dan kami pun bergumul dalam panasnya api birahi.

Sejak itu, tiap kali dapat tugas mengantar, aku dapat jatah kenikmatan. Kadang kami melakukannya sebelum pergi, kadang sesudahnya. Dan aku selalu menyiapkan kondom, agar tidak terjadi hal-hal yang bakal menyulitkan aku dan bu Tanti. Lagipula, enaknya pakai kondom karena aku tidak harus buru-buru “mencabut” saat akan “keluar”.

Dalam sebuah kesempatan usai bercinta, bu Tanti curhat padaku. Ia bilang kalau sudah hampir 2 tahun ini tidak mendapat nafkah batin dari pak Said. Katanya, pak Said sudah loyo, mungkin karena kelelahan bekerja. Pak Said baru bisa perkasa setelah mengkonsumsi obat kuat. Itu pun dibatasi karena pak Said punya sakit jantung.

Tanpa terasa, hubungan gelapku dengan ibu mertuaku sendiri berjalan 3 tahun lebih. Untuk variasi, kadang kami melakukannya di hotel, tapi memang lebih sering di rumah bu Tanti.

Setelah 1,5 tahun bersama mereguk kenikmatan terlarang, suatu hari bu Tanti meneleponku dan minta aku datang ke rumahnya. Aku waktu itu sempat bertanya-tanya dalam hati, baru sehari sebelumnya kami melakukan pergumulan, kok sudah minta lagi. Aku sih oke-oke saja. Saat jam istirahat kantor aku meluncur ke apotik untuk beli kondom, lalu ke rumah bu Tanti.

Ternyata di luar dugaanku, bu Tanti ingin mengakhiri hubungan terlarang kami. Katanya, ia selalu dihantui rasa bersalah pada Lina. “Meskipun aku cinta kamu, tapi tak akan mungkin kita bersama terus seperti ini”, ujarnya di sela isak tangisnya. Aku termangu-mangu mendengar ucapannya. Sedari awal memang sudah kusadari kalau yang kami lakukan ini salah. Tapi nafsuku membutakan mata hatiku. Aku memohon kepada bu Tanti untuk tidak memutuskan hubungan kami, tapi ia bersikeras.

Akhirnya kuterima permintaannya. Hari itu untuk terakhir kalinya kami bercinta. Kupuas-puaskan diriku menikmati tubuh bu Tanti. Tampaknya bu Tanti pun demikian. Pokoknya, kami habis-habisan menyalurkan hasrat birahi siang itu, karena tahu setelah itu tidak akan bisa lagi.

Sejak itu, bu Tanti tak pernah lagi memintaku untuk mengantarnya. Kata Lina, pak Said sudah dapat sopir baru, mantan sopir dari kantor pak Said yang pensiun dan direkrutnya untuk melayani bu Tanti.

Awalnya aku merasakan hari-hariku hampa. Aku hanya bisa bernostalgia, mengenang saat-saat indahku bersama bu Tanti. Kadang aku merasa kecewa tak lagi berhubungan dengan wanita yang tak lain adalah ibu mertuaku sendiri itu. Tapi lambat laun aku mulai bisa menerima kenyataan itu. Bahkan aku menyadari kalau semua yang kulakukan dengan bu Tanti adalah salah. Ya, pada akhirnya aku berterima kasih padanya yang telah mengambil keputusan tepat dengan mengakhiri hubungan kami.

Sekitar 3 tahun setelah itu terdengar kabar yang sangat mengejutkan. Pak Said menceraikan bu Tanti. Tentu saja hal ini membuat heboh seluruh keluarga besar pak Said. Yang membuatku makin terkejut adalah karena bu Tanti berselingkuh dengan mantan pacarnya yang membuat pak Said menceraikannya. Kabarnya, bu Tanti mulai main mata dengan mantannya gara-gara facebook. Ya, waktu itu kalau tak salah facebook mulai mewabah. Pak Said mengetahui kalau istrinya berselingkuh berdasarkan cerita dari sopir bu Tanti sendiri. Menurut kabar yang kudengar, sopir bu Tanti kerap diminta mengantar ke tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah didatangi oleh bu Tanti, seperti restoran dan hotel. Bahkan, masih menurut sang sopir, bu Tanti pernah diminta menjemput seorang laki-laki di bandara yang kata Tanti saudaranya yang tinggal di luar negeri.

Aku tercenung mendengar kabar itu. Kukira selama ini bu Tanti telah benar-benar insyaf, tapi ternyata ia masih tak mampu menepis godaan yang datang padanya. Pernah sekali waktu aku menghubunginya untuk sekedar bicara pada bu Tanti mengenai masalah yang dihadapinya, tapi begitu mendengar suaraku, bu Tanti langsung menutup teleponnya.

(Visited 8,929 times, 27 visits today)

Comments

Comments are closed.