Kisah Hera Wanita Pekerja Club Malam

487 views

wanita malamKisah Wanita Pekerja Club Malam – Semasa hidup, ayahnya bekerja sebagai supir mobil box di sebuah perusahaan rokok. Sementara sang ibu bekerja sebagai tukang jahit di rumahnya di jalan Sultan Alauddin. Hera masih punya adik dua orang yang masih kecil. Saat-saat sulit itulah sang kekasih mendadak memutuskan hubungan mereka. “Dia pindah ke lain hati. Padahal, hubungan kami sudah sangat dalam. Kami pacaran sudah tiga tahun waktu itu,” kenang Hera.

Hingga suatu hari, Hera kedatangan seorang teman perempuannya yang bekerja di Jakarta dan mengajak ia ikut bekerja di Jakarta. Si teman yang sudah dua tahun menetap di Jakarta itu berhasil meyakinkan Hera bahwa di sana lebih mudah mencari pekerjaan daripada di Makassar. Akhirnya, Hera meminta izin pada ibunya untuk ikut temannya bekerja di Jakarta. “Selain keinginan mencari pekerjaan di Jakarta, gue juga ingin melupakan semua kenangan pahit ketika masih bersama dia di Makassar,” kata Hera lagi. Maka berangkatlah gadis lugu berperawakan manis dan bertubuh montok ini ke kota sejuta impian: Jakarta.

Tahun 2007. Sudah empat tahun lebih Hera bekerja di Jakarta. Ia tinggal satu kos dengan temannya yang mengajak dirinya dari Makassar. Gadis yang pernah becita-cita menjadi guru ini termasuk orang yang beruntung datang ke ibu kota. Ia mengaku tak sekalipun pernah menganggur semenjak tinggal di Jakarta. Tahun pertama ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tahun kedua ia beralih profesi sebagai pelayan kafe di kawasan Jakarta pusat. Tahun ketiga ia bekerja lagi sebagai karyawan supermarket.

Dan kini Hera bekerja sebagai karyawan klub papan atas yang terletak di pojokan jalan strategis selatan Jakarta. Menurutnya, sudah hampir dua tahun ia melakoni pekerjaan terakhirnya ini. Hera, kelahiran Makassar, 12 Juni 1984. Gadis yatim ini memiliki kisah hidup yang terdengar klasik di antara denyut nadi orang-orang Jakarta. Jauh-jauh menyeberangi lautan untuk mengadu nasib di kampung orang, dan akhirnya bekerja di malam hari saat di mana sebagian orang telah tertidur melepas penat.

Menurut penuturan Hera, bekerja sebagai server klub malam bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain cekatan, dibutuhkan juga kesabaran yang tinggi dalam melayani para tamu yang terkadang menyebalkan. “Tiap malam kita berinteraksi dengan orang mabuk. Bisa dibayangkan bukan bagaimana repotnya?” tuturnya. Meski demikian, ia mengaku tetap antusias dan mencintai pekerjaannya.

Tak jarang Hera mengalami berbagai bentuk pelecehan, penghinaan, dan makian pengunjung klub itu. “Biasanya si tamu itu marah-marah karena menganggap pelayananan kami sangat lambat. Misalnya, pesanan bir yang biasa telat kami antar ke meja mereka,” ungkapnya. Memang, terkadang kita atau pengunjung THM menganggap mereka yang bekerja di klub-klub malam tak ubahnya robot yang dapat dikendalikan sesuka hati.

Seakan kita lupa, Hera dan teman-temannya adalah manusia biasa yang punya hati dan isi pikiran sendiri-sendiri. “Pernah juga ada tamu yang mencolek bokong gue, dan berkata: “Aduh, montok banget. Mau enggak jadi pembantu di rumah gue?…sekalian jadi istri kedua,” lanjut Hera menirukan ejekan seorang pengunjung. Masih menurut penuturan Hera, beberapa tamu pernah mengajaknya “kencan” secara terang-terangan dengan menawarkan sejumlah uang jika ia bersedia “melayani” si tamu.

“Yang ngajak kencan sih banyak. Biasanya gue tolak secara halus dengan senyum kecut yang gue paksain manis. Ditambah mata gue yang sedikit melotot, biasanya si tamu langsung mengerti kalo gue enggak sudi. Hehehe,” ucapnya seraya tertawa.

Katanya lagi, pelecehan seksual semacam ini tidak tiap malam dialaminya. Awalnya, ia mengaku risih menjalani profesinya itu. Bagaimana tidak, sebelumnya Hera terbilang orang yang jarang mengunjungi klub-klub malam. Wajar saja jika ia merasa aneh melihat tingkah laku para pengunjung tempatnya bekerja. Lambat laun ia mulai menikmati bahkan kadang ikut larut dalam hingar-bingar para clubbers yang bergoyang mengikuti hentakkan musik progressive.

Bagi Hera, bekerja di sebuah klub memiliki keistimewaan tersendiri. Gadis berdarah Bugis ini sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter orang. “Dulu ada tamu yang memberikan uang tip separuh dari gaji gue sebulan. Tanpa menuntut macam-macam, ditemani ngobrol, doang!” kata gadis berambut panjang ini.

Beragam kejadian aneh yang pernah terekam mata Hera selama bekerja di klub itu. Misalnya, ia kerap melihat sepasang muda-mudi berciuman bibir di sofa yang terletak di pojok ruangan. Seolah tak peduli dengan orang sekitar, tangan sepasang anak muda itu menyelusup masuk ke dalam celana jeans masing-masing. “Kejadian semacam itu hampir tiap malam kita lihat. Dan biasanya adegan ‘hot’ seperti itu berakhir di tangan sekuriti,” cerita pengagum Andi Alfian Mallarangeng ini.

Sudah pasti, kejadian-kejadian yang lebih ekstrim dan cenderung anarkis tentu sulit terhindarkan di tempat semacam itu. Namanya saja klub, ulah para pengunjungnya terkadang diluar kontrol kesadaran normal akibat pengaruh alkohol atau obat-obatan yang bisa bikin fly.

Menurut kesaksian Hera, beberapa kali ia melihat kejadian: laki-laki menampar perempuan dan perempuan menampar laki-laki. Atau, seorang perempuan menjambak rambut perempuan lainnya dan dua laki-laki saling bertukar bogem mentah ke wajah masing-masing. “Apalagi yang membuat mereka ribut kalau bukan masalah perselingkuhan. Kalo laki-laki sih kadang pemicunya hal sepele, ada yang marah karena tak sengaja tersenggol pengunjung lain, atau ceweknya mengadu dicolek laki-laki lain,” papar Hera.

Ketika ditanya, kejadian apa saja yang paling membuatnya sebal? “Gue pernah tersembur muntahan salah seorang tamu yang minta ditemani ngobrol. Bayangkan, muntahan itu mengotori hampir seluruh baju gue bo! Gue langsung ikut muntah di tempat kerena jijik. Sadis enggak, tuh?” tukasnya.

Pernah juga pada malam yang lain, seorang lelaki setengah baya meminta Hera menemaninya duduk di sofa. Lelaki itu menenggak habis 5 botol bir tanpa dibantu oleh siapapun. Dalam keadaan teler berat, lelaki itu terus berceracau tentang istrinya yang bermain serong dengan lelaki lain. Menjelang klub tutup pukul 03.00, si tamu itu merogoh isi dompetnya dan bermaksud memberikan uang tip pada Hera.

“Bukannya duit yang diambil dari dompetnya, malah sebungkus kondom yang masih baru. Langsung aja gue omelin: Mas, liat-liat dulu dong kalo mau memberi sama orang. Itu bukan duit, tapi kondom! Akhirnya ia menukar lagi kondom itu dengan selembar duit 50.000-an sebelum berjalan keluar dengan langkah gontai,” tutur gadis lajang ini sambil tersenyum.

Tak jarang pula Hera menemui pengunjung klub yang berprilaku kurang ajar. Ada yang berpura-pura baik hati memberikan selembar uang tip 20.000-an, tahu-tahunya, setiba di rumah kos Hera melihat lembaran uang itu ternyata sobekan uang 20.000-an dan sobekan uang 10.000-an yang telah disatukan dengan lem. “Sampai sekarang gue masih inget wajah penipu berbau ‘naga’ itu,” katanya lagi dengan wajah geram.

Pahit manisnya bekerja di dunia gemerlap (dugem) sudah pernah ia rasakan. Hera sadar betul, bekerja di malam hari lebih berisiko dibanding bekerja siang hari. Apa lagi di kota besar seperti Jakarta. Segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi pada dirinya. Ia mengisahkan, pernah suatu kali ia pulang tanpa mobil antar-jemput milik perusahaan yang biasa di pakai mengantar para karyawan pulang ke tempat tinggal masing-masing.

“Kebetulan malam itu mobil perusahaan lagi masuk bengkel. Gue pulang sendiri menumpangi taxi. Dan di tengah perjalanan, supir taxi itu tiba-tiba menghentikan mobil. Supir bejat itu rupanya berniat buruk sama gue. Beruntung gue bisa menyelamatkan diri,” aku Hera.

Bagaimana dengan komentar tetangga tentang pekerjaan Hera yang jam kerjanya tak lazim seperti pekerja lain? “Rata-rata tetangga kos tau kok pekerjaan gue apa. Kalaupun ada nada-nada miring, paling dari segilintir orang yang sirik aja. Biarin deh, asal mereka enggak nyenggol gue aja,” katanya dengan nada cuek.

Bagimanapun pahitnya profesi yang ia jalani saat ini, Hera tetap bergeming. Ia justru bangga dengan pekerjaan yang dijalaninya itu selama masih menghasilkan uang yang halal. Ia tak pernah peduli dengan jarak antara dirinya dengan sejumlah gadis remaja seusianya di luar sana. Saat ia larut dalam pekerjaan yang membosankan, kebanyakan anak-anak seusianya mungkin sedang asyik jalan-jalan di mal, nongkrong di kafe, atau nonton film di bioskop.

Hera merasa telah berhasil membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berguna bagi keluarga. Tak ada yang bisa ia banggakan, kecuali kemampuannya menghidupi Ibu dan kedua adiknya di kampung halaman. “Alhamdulillah, gue bisa membantu Ibu menyekolahkan kedua adikku di Makassar,” Ucapnya.

Hampir empat tahun tinggal di Jakarta, Hera mengaku baru dua kali pulang ke Makassar. “Insya Allah gue mudik lagi ramadhan nanti, gue rindu sama Ibu dan adik-adikku,” ucap Hera menutup obrolan kami.

Alur hidup Hera adalah secuil kisah para pekerja dunia gemerlap malam di Jakarta. Mereka baru bernapas lega ketika beduk masjid mulai ditabuh. Pulang paling cepat, pukul 04.30. Mereka pulang paling lambat, biasa hingga pukul 06.00. Orang seperti Hera baru terlelap ketika sebagian pekerja lainnya hendak memulai aktivitas. Dan ia bersiap-siap berangkat kerja lagi saat senja telah tenggelam di tepi kota.

(Visited 1,740 times, 1 visits today)

Comments

Comments are closed.